Baca Juga



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Musik klasik bukan semata-mata untuk kesenangan saja, melainkan juga berguna untuk perkembangan anak. Dalam kegiatan belajar musik berfungsi agar otak kanan ikut aktif, karena biasanya yang aktif  hanya otak kiri. Jadi intinya perlu adanya keseimbangan fungsi otak kiri dengan otak kanan agar kegiatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang optimal. Keseimbangan itu dapat diupayakan melalui aktifitas musik yang konstruktif.
      Garace Sudargo (seorang musisi dan pendidik) mengatakan bahwa "dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan olah raga manusia.
      Musik dapat diibaratkan seperti oli, membuat sesuatu yang tadinya macet menjadi longgar atau lapang. Dari kelapangan itu muncul kreativitas. Musik bisa menjadi katup pelepas sehingga yang macet-macet itu menjadi lancer.
      Kemacetan ini sering terjadi juga dalam pembelajaran. Selama ini pembelajaran selalu dikaitkan dengan perumpamaan, seperti mengumbar itu harus memakai pensil dulu dan lain-lain. Padahal seharusnya tidak demikian. Belajar adalah ekspresi. Dengan menggunakan musik, diharpkan belajar menjadi santai, menyenagkan sehingga mendorong kebebasan berekspresi karena pada dasarnya setres dan tekananlah yang menghambat pembelajaran.  


B.     Tujuan Pembuatan Makalah
1).    Untuk memenuhi tugas mata kuliah IAD.
2).    Untuk mengetahui sejauh mana musik klasik berpengaruh terhadap perkembangan intelegensi anak.
3).    Untuki mengetahui bagaimana cara musik klasik dalam mempengaruhi perkembangan intelegensi.


BAB II
PEMBAHASAN
Bagi kebanyakan orang, musik itu asyik buat dinikmati. Namun ternyata jika dikenalkan dan dilatih sejak usia muda, musik   bisa meningkatkan kemampuan otak. Hal itu sudah banyak diketahui sejak lama. Sebuah penelitian terbaru membuktikan adanya korelasi kuat antara berlatih musik bagi anak-anak dengan kemampuan mental lain.
Laurel Trainor, direktur Institute for Music and the Mind di  McMaster University, West Hamilton, Ontario, beserta timnya melakukan pembandingan antara anak usia prasekolah yang mengikuti pelajaran musik dengan yang tidak. Hasilnya, mereka yang ikut berlatih musik memiliki respon otak lebih besar dibanding yang tidak. Ini terlihat dari serangkaian tes pengenalan suara yang diberikan pada mereka. Riset ini mengindikasikan bahwa berlatih musik mampu memodifikasi bagian korteks pendengaran otak.
Menurut Trainor, dengan berlatih musik, bisa mengubah cara berpikir atau kognisi secara umum. Cukup berlatih musik satu atau dua tahun saja, maka bisa meningkatkan kemampuan memori dan perhatian. Semua ini diketahui berkat sejumlah tes monitor elektrik dan impuls magnetik pada otak.
“Kami memiliki hipotesa bahwa berlatih musik, bukan sekedar mendengarkan musik secara pasif, memengaruhi kemampuan atensi dan memori, yang meningkatkan mekanisme otak,” jelas Trainor. Namun jika hanya sekedar mendengarkan saja tanpa berlatih bermain musik, maka tidak akan menghasilkan efek yang sama.
Selain Trainor dan timnya, ilmuwan Harvard University, Gottfried Schlaug, juga melakukan studi serupa. Menurut Schlaug, hubungan antara berlatih musik di usia anak-anak dengan kemampuan pendengaran dan motorik otak setara dengan peningkatan kemampuan verbal dan non verbal.
A.    PENELITIAN TERHADAP MUSIK
Musik dapat mengoptimalkan perkembangan sisi kanan dan sisi kiri otak bayi Anda. Hal ini diyakini membawa manfaat dan efek positif bagi perkembangan otak bayi. Dengan music, proses belajar bayi Anda pun akan lebih mudah.
Musik dapat mengoptimalkan perkembangan sisi kanan dan sisi kiri otak bayi Anda. Hal ini diyakini membawa manfaat dan efek positif bagi perkembangan otak bayi. Dengan music, proses belajar bayi Anda pun akan lebih mudah.
1.      Musik Klasik
Menurut Eagle (1978) dalam buku ”Handbook of Music Psychology”, pengertian musik adalah :
Musik klasik adalah komposisi musik yang lahir dari budaya Eropa sekitar tahun 1750-1825. Biasanya musik klasik digolongkan melalui periodisasi tertentu, mulai dari periode klasik, diikuti oleh barok, rokoko, dan romantik. Pengertian lain dari musik klasik adalah semua musik dengan keindahan intelektual yang tinggi dari semua jaman, baik itu berupa simfoni Mozart, kantata Bach atau karya-karya abad 20.
Siegel (1999) mengatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang Alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbik jaringan neuron otak. Hal yang sama dikemukakan Campbell (2001) dalam bukunya ”Efek Mozart” mengatakan musik Barok (Bach, Handel dan Vivaldi) dapat menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar. Musik klasik (Haydn dan Mozart) mampu memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Sedangkan Gallahue (1998) mengatakan bahwa Kemampuan-kemampuan motorik,visual, auditif dan sentuhan makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Ritme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah. (http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/30/musik_merupakan_stimulasi_terhad.htm)
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam membuktikan manfaat musik klasik bagi kesehatan, terutama untuk kecerdaan otak. Memang dalam hidup ini kita tak kan pernah lepas dari yang namanya musik. dimanapun kita berada kita akan selalu bersentuhan dengan musik. namun pilihan kita terhadap musik juga dapat berpengaruh pada kesehatan kita.
Pada tahun 1998, Don Campbell, seorang musisi sekaligus pendidik, bersama Dr. Alfred Tomatis yang psikolog, mengadakan penelitian untuk melihat efek positif dari beberapa jenis musik. Hasilnya dituangkan dalam buku mereka yang di Indonesia diterbitkan dengan judul Efek Mozart, Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Mnyehatkan Tubuh.Banyak fakta menarik yang diungkap Campbell dan Tomatis. Diantaranya, adanya hubungan yang menarik antara musik dan kecerdasan manusia.


Musik (klasik) terbukti dapat meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal. Campbell kemudian mengambil contohkarya Mozart, Sonata in D major K 488 yang diyakininya mempunyai efek stimulasi yang paling baik bagi bayi.
Sedangkan menurut Dra. Louise, M.M.Psi., psikologi sekaligus terapis musik dari Present Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, sesungguhnya bukan hanya musik Mozart yang dapat digunakan. Semua musik berirama tenang dan mengalun lembut memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak.
Lebih sering disebut efek Mozart sebab musik-musik gubahan Mozart-lah yang pertama kali di teliti.
Penelitian lain juga pernah dilakukan. Frances Rauscher dan koleganya dari Universitas Wisconsin, AS melakukan penelitian hubungan antara kecerdasan dan musik. Para peneliti dari perguruan tinggi tersebut membagi dua kelompok tikus hamil. Kepada kelompok pertama diperdengarkan sejumlah sonata-sonata yang indah dari Mozart. Lalu, bayi-bayi tikus yang baru lahir masih tetap disuguhi musik yang sama sampai mereka berusia 2 bulan. Kelompok induk lainnya diperdengarkan musik minimalis Glass dan hal itu dilanjutkan sampai bayi-bayi tikus berusia 2 bulan. Rauscher dan kawan-kawannya kemudian menguji apakah “vitamin musik” yang diberikan sebagai makanan suplemen untuk dua kelompok tikus itu memberi dampak pada kecerdasan. Mereka menguji tikus-tikus bayi itu untuk berlomba di jaringan jalan yang ruwet, jalan yang simpang siur, untuk mendapatkan hadiah makanan. Hasil uji coba sangat mengesankan. Bayi-bayi tikus yang mendapatkan “vitamin musik klasik” dari sonata-sonata Mozart bekerja dengan sempurna dan sedikit sekali melakukan kesalahan dan mereka membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk makanan sebagai hadiahnya. Sedangkan kelompok tikus yang mendapat vitamin musik minimalis dari Glass tampak tidak secerdas kelompok “klasik”. Demikian laporan para peneliti dalam jurnal ilmiah Neurological Research seperti yang dikutip oleh Reuters (5/8/98).
Penelitian tersebut mengisyaratkan musik yang kompleks (musik klasik) telah meningkatkan daya belajar tikus terhadap ruang dan waktu (spatial-temporal). Dan hal ini juga berlaku untuk manusia. Para peneliti sampai pada kesimpulan, kemampuan spatial dapat ditemukan pada orang yang telah mendapat pelajaran matematika, musik dan ilmu pengetahuan. Penelitian diatas menguatkan hasil penelitian selama ini mengenai pengaruh musik klasik pada peningkatan kecerdasan. UNESCO Music Council malah telah menegaskan, pertama, musik klasik adalah alat pendidikan. Kedua, musik adalah alat untuk mempertajam rasa inteletual manusia (intellect Einfullung). Musik demikian biasanya mempunyai keseimbangan antara empat unsur musik, yakni melodi, harmoni, irama (rhythm) dan warna suara (timbre). Musik yang memenuhi persyaratan ini adalah musik klasik, semi klasik, musik rakyat juga musik tradisional seperti karawitan.
Sepertinya sudah saatnya kita menerapkan musik klasik untuk mencerdaskan anak bangsa.
Musik akan merangsang perkembangan sel-sel otak. perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga tahun. Namun, menurut dr. Jimmy Passat, ahli saraf dari FKUI-RSCM, dan Isye Widodo, S.Psi, koordinator Parent Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua sebaiknya tidak hanya menstimulasi kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanannya.

Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis.

Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.
Sementara itu bagi ibu hamil, musik – terutama yang klasik – bisa membebaskannya dari stres akibat kehamilan. Ini sangat baik sebab, menurut dr. Suharwan Hadisudarmo Sp.OG. MMR, stres yang tidak dikelola dengan baik, akan berdampak buruk bagi ibu yang bersangkutan dan perkembangan janin di rahimnya. Stres pada wanita hamil akan meningkatkan kadar renin angiotensin, yang memang sudah meningkat pada wanita hamil sehingga akan mengurangi sirkulasi rahim-plasenta-janin. Penurunan sirkulasi ini menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen kepada janin berkurang. Perkembangan janin pun terhambat. Hambatan macam ini bisa dihilangkan atau dikurangi bila si ibu mendengarkan musik klasik, terutama karya Mozart.

            Memang, tidak setiap ibu hamil menyukai musik klasik. Namun, kalau didengarkan secara berulang-ulang hingga hafal, akan terasa letak indahnya musik klasik ini. Keindahan dan ketenangan inilah yang membuat musik klasik itu istimewa. Cukup 30 menit sehari
Mungkin semua jenis musik, dari yang tradisional hingga modern, bisa pula dimanfaatkan untuk hal yang sama. Namun, hingga saat ini yang sudah diteliti dan menunjukkan hasil positif baru musik klasik, terutama karya Mozart. Jenis musik ini terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan otak belahan kanan dari janin. Menurut Suzuki (1987), seperti dikutip Utami, bila anak dibesarkan dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya.

      Mendengar alunan musik yang tenang, jantung si janin berdenyut dengan tenang pula. Bahkan, setelah dilahirkan mendengarkan musik klasik juga memberi pengaruh baik bagi si bayi. Sekadar contoh, seperti diberikan Utami, seorang bayi berusia tiga bulan, yang sejak lahir sering diputarkan musik klasik, mampu menggerakkan badannya sesuai dengan iramanya. Jika irama makin cepat menuju klimaks, gerakan bayi lebih cepat dan aktif, dan ketika musik berhenti dia menunjukkan ketidaksenangan.

      Sementara untuk merangsang belahan otak kiri yang bertanggung jawab terhadap kemampuan akademik, tambah Isye, musik dengan syair yang mendidik terbukti memberi pengaruh baik. “Saya menggunakan lagu-lagu anak-anak Indonesia. Itu merupakan eksperimen saya sendiri. Nah, intervensi yang saya gunakan selama ini ternyata ada gunanya. Bayi yang dilahirkan, ketika berusia dua tahun ternyata memiliki kemampuan komunikasi pasif dan aktif seperti anak usia empat tahun. Contoh lainnya, bayi berusia tiga bulan umumnya belum ada tanda-tanda mengeluarkan kata-kata ‘a-e-o’. Tapi bayi yang, ketika masih dalam kandungan, mendapat terapi musik sudah bisa mengeluarkan kata-kata itu, kemampuan berbahasanya lebih cepat,” ungkapnya.

            Isye juga menyatakan, lagu anak-anak yang dipilih untuk terapi cukup dua tiga lagu. Musik bersyair itu misalnya lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud atau Ibu Kasur. Menurut dia, Pelangi-Pelangi merupakan lagu paling disukai. “Pada akhir lagu itu ‘kan ada syair ‘… ciptaan Tuhan’. Jadi sejak janin, calon anak ini sudah mengenal kata Tuhan,” jelasnya.

            Stimulasi perkembangan otak janin ini bisa dilakukan sejak usia kehamilan 18 – 20 minggu. Menurut Harold I. Kaplan, Benjamin J. Sadock, dan Jack A. Grebb, pada usia itu janin sudah dapat mendengar. Dia juga sudah bisa bereaksi terhadap suara dengan memberi respons berupa kontraksi otot, pergerakan, dan perubahan denyut jantung. Bahkan, pada usia itu perkembangan mental emosional janin sudah dapat dipengaruhi musik.

Mendengarkannya bisa dilakukan di mana saja. Namun, untuk tujuan terapi sebaiknya dilakukan di tempat khusus untuk terapi dan dipandu oleh pakarnya. “Di tempat terapi ini akan tercipta suasana kebersamaan. Dengan kebersamaan itu, mereka bisa bertukar pengalaman dan sebagainya, sehingga saat menghadapi persalinan persiapan mental mereka sudah bagus dan rasa percaya dirinya juga bagus,” jelas Isye. Di samping itu ibu hamil dianjurkan pula mendengarkan musik di rumah secara teratur.

Dalam melakukan terapi musik, ibu hamil mesti melalui tahapan relaksasi fisik dan mental sebelum memasuki tahapan stimulasi terhadap janin. “Untuk mencapai rileks fisik saya memberikan relaksasi progresif di mana ibu-ibu mengendurkan dan mengencangkan otot-ototnya, mengatur pernapasan dan sebagainya. Setelah secara fisik rileks, baru memasuki relaksasi mental. Dalam relaksasi mental, saya mengucapkan kata-kata yang bersifat sugesti dan menguatkan. Jadi secara fisik mereka rileks, dan saya membawa mereka ke dalam suasana di mana mereka bisa melupakan semua konflik yang mereka rasakan sebelumnya. Mereka hanya berkonsentrasi untuk terapi. Pada saat diberi instruksi-instruksi untuk relaksasi, diperdengarkan alunan musik yang bisa membangkitkan perasaan rileks. Setelah itu, baru memasuki stimulasi untuk janin,” jelas psikolog yang memperdalam terapi musik di Jerman ini.

Waktu yang diperlukan untuk terapi sekitar 30 menit, untuk relaksasi (10 – 15 menit), dan stimulasi (15 – 20 menit). Di rumah, lamanya mendengarkan musik yang dianjurkan untuk ibu hamil sekitar 30 menit setiap hari. Sebaiknya, saat mendengarkan jarak loudspeaker sekitar 50 cm dari perut. Si ibu bisa melakukannya dalam keadaan istirahat atau aktif seperti membaca atau melakukan senam hamil.
Untuk memperoleh manfaat dari mendengarkan musik, ibu hamil dianjurkan mendengarkan dengan penuh perhatian dan kesadaran. Musik mesti mendapat kesempatan untuk merasuk ke dalam pikiran. Dengan demikian, suara, harmoni, dan irama musik dapat mendorong seseorang untuk bergairah, kreatif, dan menyenangkan.

Bagi yang belum terbiasa mendengarkan musik klasik, sebaiknya dimulai dengan belajar menikmati musik klasik ringan macam gubahan Johann Strauss. Setelah terbiasa bisa dicoba dengan yang lebih berat dan sudah terkenal seperti gubahan W.A. Mozart, Fredric Chopin, dan Ludwig van Beethoven. Berikutnya dicoba musik dengan komposisi lengkap, seperti konser atau simfoni.

Memutar janin sungsang

Uniknya, stimulasi musik klasik juga bisa digunakan untuk memutar posisi janin sungsang menjadi normal. Menurut dr. Ronald David, SpOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya, Jakarta, beberapa jenis musik baroque ciptaan Antonio Vivaldi dan Johann Sebastian Bach, kini digunakan di Kanada dalam upaya memutar letak janin yang sungsang sejak usia 32 – 35 minggu.
Semula upaya memutar letak janin ini dilakukan cuma melalui senam (postural exercise) dengan posisi the breech tilt (berbaring dengan pantat disokong tiga bantal hingga tingginya sekitar 30 cm dari lantai dan lutut ditekuk) yang diperkenalkan pertama kali oleh Marianne B.W. pada 1983. Atau, dengan cara visualisasi (mengubah posisi janin dengan kemampuan mental). Pada tahun 1987 Penny Simkin P.T. menyempurnakan cara senam dengan memadukan senam dan musik.

Dalam memadukan senam dan musik klasik, posisi senam the breech tilt atau knee chest (menungging dengan dada menempel pada lantai) sebenarnya sama saja. “Namun, posisi the breech tilt menimbulkan lebih banyak keluhan pada ibu hamil. Karena itu, kami menganjurkan untuk memilih posisi knee chest,” jelas dr. Ronald.
Dengan posisi itu ditambah dengan gaya gravitasi, kepala janin akan jatuh ke arah fundus uteri. Gaya gravitasi yang terus-menerus menyebabkan kepala janin lebih fleksibel sehingga dagu janin menyentuh dadanya. Berat badan serta penekanan oleh usaha janin sendiri untuk mencari suara musik klasik agar lebih jelas menyebabkan terjadinya perputaran letak lintang dan kemudian menjadi letak kepala.

Untuk tujuan ini, ibu hamil perlu pemeriksaan medis dan pemeriksaan USG terlebih dahulu guna mengetahui letak plasenta. Dari hasilnya bisa diketahui bisa-tidaknya si ibu melakukan senam yang dikombinasi dengan terapi musik untuk mengubah posisi janin. Kalau OK, latihan bisa dimulai. Latihan ini dimulai pada usia kehamilan 32 – 36 minggu. Tempat sebaiknya dipilih yang tenang dan bebas bising. Frekuensinya tiga kali sehari, masing-masing 10 – 15 menit. Latihan sebaiknya dilakukan saat janin aktif dan perut ibu dalam keadaan kosong.

Saat latihan sepasang earphone ditempelkan di bagian perut bawah, tempat kepala janin diharapkan akan berada, dengan bantuan plester atau perekat lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan, musik klasik baroque (Vivaldi, Bach, Mozart) lebih baik ketimbang jenis romantic (Chopin, Debussy, Beethoven). Musik rock malah mengganggu putaran janin. Pikiran hendaknya membayangkan janin berputar ke arah yang diharapkan. Bila kepala terasa panas, pusing, mual, latihan dihentikan dan diulang keesokan harinya. Setelah dua minggu latihan, perlu pemeriksaan dokter untuk mengetahui keberhasilannya. Bila belum berhasil, perlu dilanjutkan lagi selama dua minggu dengan lama latihan sekitar 30 menit.

“Kunci keberhasilan senam yang dikombinasikan musik klasik untuk memutar letak bayi ini tergantung motivasi ibu melakukannya,” jelas dr. David. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan perputaran di antaranya letak sungsang Frank Breech, lilitan tali pusat, plasenta inersi di comu uteri yang berhadapan dengan muka janin, dan kelainan bentuk uteris (bicomis, subseptus).

Saat ini penggunaan musik klasik untuk stimulasi atau terapi bagi janin dan ibu hamil memang bukan hal baru di negara maju macam Prancis dan Jepang. Sebaliknya, di Indonesia baru dicoba sejak beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1994 RSAB Harapan Kita, Jakarta, merintis penerapan cara-cara stimulasi atau terapi ini. Setelah itu, beberapa rumah sakit ikut mempraktikkan. Di antaranya RS Atmajaya, RS Pantai Indah Kapuk, dan RS Pluit. Bahkan, terapi musik sudah masuk ke Puskesmas meski baru Puskesmas Tambora, Jakarta Barat yang mempraktikkannya.

Namun, jauh dari pusat-pusat pelayanan kesehatan juga bukan berarti ibu-ibu hamil tidak bisa melakukannya. Mereka bisa mencobanya di rumah sendiri, syukur-syukur bila sempat berkonsultasi denga terapis musik terlebih dahulu.

2.      Musik rock progresif
Rock progresif lahir dari gerakan counterculture tahun 1960-an dan berusaha mendobrak pengotak-kotakan musik rock dengan mengeksplorasi bentuk-bentuk baru. Musik rock progresif yang paling dikenal adalah kombinasi energi musik rock dengan klasik yang megah dan monumental. Tetapi ada pula yang menggabungkan unsur-unsur jazz, folk, R&B, avant-garde, world music, dan sebagainya. Cikal bakal rock progresif adalah rock psikedelik yang lahir di lingkungan underground di Inggris pada pertengahan 1960-an. Ciri khas konser musik psikedelik menawarkan citra berupa warna-warna cemerlang dan sarat halusinasi dan bersemangat eksperimental untuk mendobrak batas-batas dan norma-norma yang ada sebelumnya (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0310/31/Musik/644780.htm )
Rock progressive adalah :
"Progressive rock ("prog") was a musical movement that reached its peak in the early 1970s and attempted to blend the visceral style of rock music with outside influences: classical, jazz, folk, and world musics, for example."
Progressive rock (sering disingkat prog atau prog rock) adalah bentuk musik rock yang berkembang di akhir 1960-an dan awal 1970-an sebagai bagian dari "upaya sebagian besar Inggris untuk mengangkat musik rock ke tingkat baru kredibilitas artistic. The "art rock" istilah yang sering digunakan bergantian dengan "progressive rock", tapi sementara ada pindah silang antara dua genre, mereka tidak identik.
Band rock Progresif didorong "batas-batas rock's teknis dan komposisi" dengan pergi luar rock standar atau populer struktur lagu ayat-chorus berbasis. Selain itu, pengaturan sering dimasukkan unsur-unsur yang diambil dari klasik, jazz, dan musik dunia. Instrumental yang umum, sementara lagu dengan lirik yang kadang-kadang konseptual, abstrak, atau didasarkan pada fantasi. band rock Progresif kadang-kadang digunakan "album konsep yang membuat pernyataan bersatu, biasanya menceritakan sebuah kisah epik atau menangani tema grand menyeluruh."
Progressive rock dikembangkan dari tahun 1960-an psychedelic rock, sebagai bagian dari kecenderungan luas dalam musik rock era ini untuk menarik inspirasi dari pengaruh semakin beragam. Istilah ini diterapkan pada musik dari band-band seperti King Crimson, Yes, Genesis, Pink Floyd, Jethro Tull, Soft Machine dan Emerson, Lake dan Palmer. Progressive rock mulai dipakai paling luas di sekitar pertengahan 1970-an. Sementara progressive rock mencapai puncak popularitasnya di tahun 1970 dan awal 1980-an, band neo-progresif terus bermain untuk penonton setia dalam dekade berikutnya.
Karakteristik musik
Bentuk: lagu-lagu rock progresif baik menghindari struktur umum lagu musik populer dari jembatan ayat--chorus, atau mengaburkan perbedaan formal dengan memperluas bagian atau memasukkan selingan musik, sering dengan dinamika berlebihan untuk meningkatkan kontras antara bagian. Bentuk klasik sering dimasukkan atau diganti, kadang-kadang menghasilkan seluruh suite, bangunan di medleys tradisional band rock sebelumnya. lagu-lagu rock Progresif juga sering telah memperpanjang bagian instrumental, menikah tradisi solo klasik dengan tradisi improvisasi jazz. Semua ini cenderung menambah panjang lagu rock progresif, yang bisa berlangsung lebih lama dari dua puluh menit.
Timbre (instrumentasi dan warna nada): Awal grup rock progresif memperluas palet timbral dari instrumentasi batu kemudian-tradisional gitar, organ, bass, dan drum dengan menambahkan instrumen yang lebih khas dari musik jazz atau rakyat, seperti flute, saxophone dan biola , dan lebih sering daripada tidak digunakan keyboard elektronik, synthesizer, dan efek elektronik. Beberapa instrumen - terutama synthesizer Moog dan Mellotron - telah menjadi erat terkait dengan genre.
Rhythm: Menggambar di klasik mereka, rakyat jazz, dan pengaruh eksperimental, artis rock progresif lebih cenderung untuk mengeksplorasi tanda tangan waktu lainnya dari 4 / 4 dan perubahan tempo. Progressive rock umumnya cenderung lebih bebas dalam pendekatan berirama dibanding bentuk-bentuk musik rock. Pendekatan yang dilakukan bervariasi, tergantung pada band, tapi bisa berkisar dari denyut teratur untuk Signatures Sisa yang tidak teratur atau kompleks.
Melodi lebih cenderung menjadi modal daripada berdasarkan skala pentatonik, dan lebih cenderung terdiri lagi, mengembangkan bagian-bagian dari pendek, yang catchy. Akord dan progresi chord mungkin dapat ditambah dengan 6ths, 7ths, 9ths, dan interval senyawa, dan perkembangan I-IV-V jauh kurang umum. Kiasan, atau bahkan kutipan langsung dari, tema klasik terkenal adalah umum. Beberapa band telah menggunakan harmoni tanpa nada atau disonan, dan beberapa bahkan bekerja dengan serialism dasar.
Misalnya, motif utama digunakan untuk mewakili berbagai karakter dalam Kejadian '"Harold satu barel" dan "Perampokan, Assault dan Baterai."
Karakteristik lainnya
Mellotron itu, terutama, adalah suara tanda tangan dari band progresif awal. Pada akhir 1970-an, Robert Fripp, dari King Crimson, dan Brian Eno mengembangkan pita efek loop analog (Frippertronics). Pada 1980-an, Frank Zappa Synclavier digunakan untuk menulis dan rekaman, dan King Crimson dimanfaatkan MIDI-enabled gitar, Stick Chapman, dan perkusi elektronik.
Seperti lagu-lagu oleh tindakan progresif rock cenderung cukup lama, koleksi seperti itu sering melebihi panjang maksimum media rekaman, sehingga paket yang membutuhkan cakram beberapa vinyl, kaset, atau compact disc dalam rangka untuk menyajikan sebuah album tunggal. Konsep telah memasukkan sejarah, fantastis, dan metafisik, dan bahkan, dalam kasus Jethro Tull's tebal sebagai Brick, menyenangkan menusuk di album konsep.
Progressive rock biasanya memiliki ambisi liris mirip dengan ambisi musik nya, cenderung menghindari mata pelajaran khas rock pop / seperti cinta, menari, dll, agak mencondongkan terhadap jenis tema yang ditemukan dalam sastra klasik, fantasi, cerita rakyat, commentry sosial atau semua. Peter Gabriel (Genesis) sering menulis cerita-cerita nyata untuk basis lirik di sekitar, kadang-kadang termasuk elemen teater dengan beberapa karakter, sedangkan Roger Waters (Pink Floyd) kritik sosial dikombinasikan dengan pribadi perjuangan dengan keserakahan, kegilaan, dan kematian.
Pepper's Lonely Hearts Club Band dan memainkan peranan utama dalam pemasaran rock progresif. Beberapa band menjadi sebagai terkenal untuk arah seni album mereka sebagai untuk suara mereka, dengan "melihat" diintegrasikan ke dalam identitas keseluruhan musik band ini.
Di masa sekarang ini terutama di Indonesia, yang terkenal adalah jenis music pop yang cengeng dan terlalu gampang dicerna sehingga otak manusia yang mendengarnya pun jarang teragsang untuk berpikir.
Dengan adanya pemasyarakatan tentang “music cerdas”  diharapkan bias meningkatkan kualitas perkembangan anak-anak dari usia dini. Orang tua juga harus berperan dalam menentukan music anak, pilihlah music yang mempunyai bobot dan bermutu.

B.     HUBUNGAN MUSIK DENGAN PEMBELAJARAN
Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasarannya (Etzioni,1964). Dengan demikian Efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting, karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan seseorang dalam mencapai sasarannya atau suatu tingkatan terhadap mana tujuan - tujuan dicapai (Prokopenko,1987), atau tingkat pencapaian tujuan (Hoy dan Miskel,1992). Menurut Barker (1997), pengertian belajar adalah sebagai berikut: ”Learning is a relatively permanent change in observable behaviour potential that results from experience with the environment”.
Sementara itu belajar dapat pula dikatakan sebagai komunikasi terencana yang menghasilkan perubahan atas sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam hubungan dengan sasaran khusus yang berkaitan dengan pola berperilaku yang diperlukan individu untuk mewujudkan secara lengkap tugas atau pekerjaan tertentu (Bramley,1996).
Dengan demikian, yang dimaksud dengan efektivitas belajar adalah tingkat pencapaian tujuan pelatihan. Pencapaian tujuan tersebut berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap melalui proses pembelajaran. Sedangkan definisi siswa yang dimaksud disini adalah orang yang duduk di tingkat SMA kelas 3 yang berusia 16 sampai 17 tahun dengan tujuan menggali ilmu.
Stephanie Merritt dalam bukunya yang berjudul ”Simfoni Otak” membahas tentang pengaruh musik klasik terhadap otak. Dalam buku ini salah satunya juga membahas mengenai pengaruh musik rock terhadap otak. Biasanya pengaruh musik rock terhadap diri manusia cenderung merusak, seperti meningkatnya perasaan tertekan (stress), jadi kurang bersemangat, menuntun tubuh pada kondisi panik, dan memicu perilaku hiperaktif dan tidak tenang. Sedangkan pengaruh musik klasik pada manusia cenderung positif, seperti membuat lebih bersemangat, lebih mudah mengingat, meningkatkan kreativitas, dan menghilangkan perasaan tertekan. Pengaruh paling kuat dari musik terdapat pada iramanya. Jenis musik yang memberikan dampak negatif bagi tubuh manusia yaitu musik berirama anapestik (terdapat pada musik rock). Jenis musik ini memberikan tekanan pada irama terakhir, istirahat sebentar, sebelum mulai dengan irama pertama. Ritme ini bertentangan dengan ritme tubuh manusia, yang selalu teratur dan meberikan penekanan pada irama pertama (terdapat pada ritme lagu Waltz.


BAB III
PENUTUPAN
A.    Kesimpulan
Music terbukti dapat menambah kecerdasan otak dan meningkatkan kerja otak sebagai stimulus yang baik, terutama music klasik dan rock progresif.
B.     Saran
Sebagai calon pendidik, sebaiknya kita mengetahui aspek aspek yang dapat mengembangkan kecerdasan anak didik kita, misalnya dengan music. Jarang kita jumpai pendidik yang mau menggunakan media music sebagai media pembelajaran, padahal sudah terbukti music bias menjadi perangsang stimulus yang baik.
Maka dari itu, tidak ada salahnya mencoba menggunakan music dalam pembelajaran dan mengapresiasikan pembelajaran lebih menarik.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim dikutip dari :
 http://imadeharyoga.com/2008/11/penelitian-musik-klasik
 http://dhani.blogspot.com/2003/09/musik-klasik.html
http://lacsar.blogspot.com/2003_01_26_lacsar_archive.html